Tutooria lahir pada 2019 di sebuah ruang tamu di Depok, dari dua guru yang lelah melihat murid dinilai lewat kecepatan, bukan pemahaman.

Kelas berisi empat puluh anak memaksa satu ritme untuk semua orang. Yang cepat menunggu, yang lambat tertinggal, dan keduanya sama-sama kehilangan. Kami penasaran: bagaimana kalau ritme itu dibalik — pelajarannya yang menyesuaikan muridnya?

Enam tahun kemudian, pertanyaan itu sudah dijawab lewat 68.000 sesi belajar bersama 2.400 tutor di seluruh Indonesia. Cara kerja kami masih sama seperti hari pertama: kenali muridnya dulu, baru tentukan cara mengajarnya.

Kami tidak berusaha menjadi platform terbesar. Kami berusaha menjadi tempat di mana seorang anak akhirnya berkata, “Oh, ternyata begitu.”

Tiga hal yang
tidak kami tawar.

Prinsip ini yang kami pakai saat memutuskan fitur apa yang dibuat, tutor mana yang diterima, dan kapan harus berkata tidak.

01

Paham lebih penting daripada selesai

Tutor kami tidak dikejar target bab. Kalau satu konsep butuh tiga pertemuan, maka tiga pertemuan itulah yang diambil.

02

Manusia menyaring manusia

Tidak ada tutor yang lolos hanya karena skor tes. Setiap orang melewati simulasi mengajar dengan tim akademik kami, secara langsung.

03

Harga yang bisa dibaca sekali lihat

Tanpa uang pendaftaran, tanpa biaya administrasi, tanpa paket yang sulit dibatalkan. Angka yang tertera adalah angka yang dibayar.

Enam tahun, satu arah.

2019

Dimulai dari ruang tamu

Dua guru, sebelas murid, dan satu papan tulis pinjaman di Depok.

2020

Pindah ke daring

Sekolah tutup, permintaan meledak. Kami membangun papan tulis interaktif sendiri dalam sembilan minggu.

2022

Seribu tutor pertama

Proses seleksi diformalkan bersama tim akademik. Tingkat kelulusan pendaftar turun ke 6% — dan bertahan di sana.

2024

Kelas tatap muka kembali

Lima kota dibuka untuk les di rumah, tanpa biaya transportasi tambahan bagi murid.

2026

68.000 sesi dan terus berjalan

Tersebar di 34 provinsi, dengan rata-rata penilaian 4,9 dari 5.

Orang yang menjaga
standarnya.

Tim kecil yang sebagian besar pernah berdiri di depan kelas — dan masih mengajar sampai sekarang.

Nadia Puspita

Pendiri & Kepala Akademik

Guru Matematika selama sembilan tahun sebelum Tutooria. Masih mengajar dua kelas setiap minggu.

Reza Hakim

Pendiri & Produk

Guru Fisika yang belajar membuat perangkat lunak karena tidak ada alat yang cukup baik.

Sinta Amaliah

Kepala Kurasi Tutor

Menjalankan seluruh proses seleksi. Tangannya yang menahan tingkat kelulusan tetap di 6%.

Yoga Tirta

Pengalaman Murid

Menelepon murid yang berhenti di tengah jalan, untuk mencari tahu apa yang kami lewatkan.

Mengajar bersama
kami?

Kami menerima enam dari seratus pendaftar. Kalau kamu yakin bisa menjelaskan dengan sabar dan jujur, kami ingin bertemu.