Sejak 2024 kami bekerja sama dengan 86 sekolah di sembilan kota, dari SMP negeri di pinggiran sampai SMA swasta dengan kelas internasional.

Polanya selalu sama: wali kelas tahu ada murid yang tertinggal, tapi tidak punya waktu dan data untuk memastikan siapa dan di bab mana. Guru mata pelajaran punya firasat, bukan bukti. Ketika rapor akhirnya keluar, waktu untuk memperbaiki sudah habis.

Kami memasang tiga hal di sekolah mitra: try out terjadwal supaya ada pengukuran rutin, dasbor yang menerjemahkan hasilnya jadi daftar nama dan bab, dan tutor privat untuk murid yang memang butuh pendampingan satu lawan satu.

Sekolah membayar per program, bukan per murid. Tidak ada biaya yang dibebankan ke orang tua tanpa persetujuan sekolah lebih dulu.

Yang sekolah
dapatkan.

Satu paket, tiga bagian. Sekolah bisa mengambil ketiganya atau hanya yang dibutuhkan.

01

Try out terjadwal

Empat sampai delapan kali setahun, soalnya disusun mengikuti kurikulum yang sekolah pakai — bukan paket seragam.

02

Dasbor untuk wali kelas

Hasil try out diterjemahkan jadi daftar nama dan bab yang perlu ditangani, bukan tumpukan angka mentah.

03

Tutor privat di sekolah

Untuk murid yang butuh pendampingan satu lawan satu, dijadwalkan di jam sekolah atau setelahnya.

04

Pelatihan guru

Dua sesi per semester untuk tim guru: membaca data murid dan menindaklanjutinya di kelas masing-masing.

Dari perkenalan
ke kelas pertama.

Pemetaan kebutuhan

Kami duduk bersama wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk melihat data nilai dua semester terakhir. Tanpa biaya, tanpa komitmen.

Rancangan program

Kami ajukan rancangan berisi jadwal try out, jumlah tutor, dan anggarannya. Sekolah bebas memangkas bagian yang belum diperlukan.

Jalan dan ditinjau

Program berjalan dengan peninjauan tiap akhir semester. Kalau hasilnya tidak bergerak, kami yang mengusulkan perubahannya.

Yang paling berguna justru dasbornya. Saya akhirnya tahu bukan cuma siapa yang nilainya turun, tapi di bab mana dia mulai kehilangan pegangan.
Suhartono
Wakasek Kurikulum, SMA di Semarang
Kami mulai dari satu angkatan saja untuk mencoba. Semester berikutnya tiga angkatan ikut, karena gurunya sendiri yang meminta.
Maria Dwiyanti
Kepala Sekolah, SMP di Bekasi
Tutornya tidak datang menggurui guru kami. Mereka menanyakan dulu bagaimana kami mengajar, baru menyesuaikan.
Ahmad Fauzi
Guru Matematika, SMA di Makassar
Laporan per kelas keluar tiap bulan tanpa perlu kami minta. Rapat evaluasi jadi membahas data, bukan perasaan.
Rina Kartikasari
Wali Kelas XI, SMA di Bandung
Siswa yang biasanya diam di kelas ternyata berani bertanya di sesi kecil. Itu yang sulit kami ciptakan dengan 36 anak dalam satu ruangan.
Yohanes Pratama
Guru BK, SMP di Kupang
Persiapan asesmen nasional tahun ini paling tenang. Sejak awal kami sudah tahu kelas mana yang perlu dibantu lebih dulu.
Dewi Rahmawati
Kepala Sekolah, SD di Sidoarjo

Mulai dari
pemetaan gratis.

Satu pertemuan, tanpa biaya dan tanpa komitmen. Kami baca data nilai sekolah Anda dan sampaikan apa yang kami lihat.